get app
inews
Aa Text
Read Next : Langgar Izin Tinggal, Imigrasi Ponorogo Deportasi Wanita Muda Warga Negara Malaysia

Gondola Jadi Tumpuan Warga Perbatasan Ponorogo Trenggalek di Tengah Keterbatasan

Minggu, 15 Februari 2026 | 11:29 WIB
header img
Secara gotong royong warga membuat Gondola agar bisa tetap menyeberang sungai foto: iNewsPonorogo.id/Putra

PONOROGO, iNewsPonorogo.id - Putusnya sebuah jembatan diperbatasan antara Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Trenggalek, seakan memutus urat nadi kehidupan warga ribuan Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, dan Desa Depok, Kecamatan Panggul, Trenggalek.

Sejak sebulan yang lalu, saat jembatan yang dikenal dengan nama Jabak ini putus, bukan hanya memutus akses aktifitas warga, namun juga denyut ekonomi. Begitupun langkah anak-anak untuk menimba ilmu ke sekolah terlebih saat hujan turun deras.

Bagi warga Desa Gedangan, guna memenuhi kenutuhan, mereka lebih dekat menyeberang ke Trenggalek, seperti pemenuhan kesehatan, hingga untuk berbelanja ke pasar, dibanding ke Kecamatan Ngrayun atau Kota Ponorogo.

“Karena ini bukan sekadar lintas desa, tapi lintas antar kabupaten. Sekolah dekatnya ke Trenggalek, rumah sakit juga warga memilih ke Trenggalek,” kata Sumarno, perangkat Desa Gedangan.

Jembatan memang menjadi satu-satunya akses yang terdekat harus putus. Jika harus memutar lewat jalur lain, warga harus menempuh jarak hingga 20 kilometer. Bagi masyarakat perbatasan dengan penghasilan yang terbatas, jelas kalau memutar jarak akan menambah ongkos, waktu, dan tenaga. Bahkan kondisi darurat pun mereka memilih menyeberang sungai ini.

“Kalau darurat, orang sakit ya harus digendong lewat sini,” ungkapnya.

Kini harapan satu-satunya adalah Gondola, atau kereta gantung darurat yang dikerek hasil gotong royong. Setiap hari, mulai dari anak-anak, hingga para pekerja menyeberang sungai bertaruh nyawa, terlebih ketika debit air sungai naik, rasa waswas semakin tinggi.

“Karena jembatan terputus, terpaksa lewat sini setiap hari. Takut pas nyeberang, apalagi kalau banjir besar,” terang Riski Kurniawan, pelajar SMA.

Salah satu warga Trenggalek, Febia Elen, tetap memilih melintas naik Gondola ini, karena memang jarak yang lebih dekat menuju Desa Baosan, Ponorogo, tempatnya bekerja.

“Saya lewat sini karena dekat, meski tetap takut jatuh. Dulu memang ada jembatan,” jelasnya.

Putusnya Jembatan Jabak berdampak langsung pada distribusi hasil pertanian, perdagangan kecil antar desa, serta akses pendidikan. Petani harus berpikir ulang soal ongkos kirim.

“Semoga jembatan bisa terbangun secepatnya. Ini akses alternatif satu-satunya bagi warga,” pungkas Suyanto, salah satu warga.

Sejarah Jembatan Jabak menyimpan cerita tentang kebutuhan yang lahir dari keterpencilan. Dulu ditahun 2010, dibangun jembatan darurat hanya untuk pejalan kaki. Lalu empat tahun berselang, pada 2014, jembatan cor beton berdiri demi menunjang mobilitas. Namun akhirnya putus diterjang arus deras sungai.

Editor : Putra

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut