Salah satu warga Trenggalek, Febia Elen, tetap memilih melintas naik Gondola ini, karena memang jarak yang lebih dekat menuju Desa Baosan, Ponorogo, tempatnya bekerja.
“Saya lewat sini karena dekat, meski tetap takut jatuh. Dulu memang ada jembatan,” jelasnya.
Putusnya Jembatan Jabak berdampak langsung pada distribusi hasil pertanian, perdagangan kecil antar desa, serta akses pendidikan. Petani harus berpikir ulang soal ongkos kirim.
“Semoga jembatan bisa terbangun secepatnya. Ini akses alternatif satu-satunya bagi warga,” pungkas Suyanto, salah satu warga.
Sejarah Jembatan Jabak menyimpan cerita tentang kebutuhan yang lahir dari keterpencilan. Dulu ditahun 2010, dibangun jembatan darurat hanya untuk pejalan kaki. Lalu empat tahun berselang, pada 2014, jembatan cor beton berdiri demi menunjang mobilitas. Namun akhirnya putus diterjang arus deras sungai.
Editor : Putra
Artikel Terkait
