MADIUN, iNewsPonorogo.id - Walikota Madiun, Maidi akhirnya ditetapkan sebagai tersangka, paska terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh komisi pemberantasan korups (KPK). Walikota yang menjabat untuk kali kesua ini, ditetapkan bersama salah seorang pengusaha yang juga orang terdekatnya Rochim Rohdiyanto (RR) dan Kepala Dinas PUPR Kota Madiun, Thariq Megah (TM).
Selain menetapkan tersangka KPK juga mengamankan barang bukti uang Rp550 juta, yang diduga hasil dari tindak pidana korupsi terkait pemerasan dengan Modus Fee Proyek dan Dana CSR serta gratifikasi di Lingkungan Pemeintah Kota Madiun.
Adanya penetapan tersangka ini, sebagian masyarakat lantas mengkaitkan dengan mitos yang masih dipercaya, yaitu bilamana ada pejabat yang tidak bersih datang ke Kediri, maka bakal lengser.
Di kalangan warga mitos ini sudah beredar sejak lama bahkan ada istilah yang menyebut “Kediri wingit”, sebuah gambaran bahwa tanah Kediri memiliki kekuatan penyeimbang, terutama terhadap kekuasaan.
Konon, mitos ini berakar di zaman Kerajaan Kediri di bawah Raja Jayabaya. Dimana sosok Jayabaya bukan hanya dikenal sebagai raja, tetapi memiliki kemampuan melihat masa depan lewat ramalan-ramalannya.
Salah satu sabda yang dipercaya berkembang di masyarakat menyebut bahwa Kediri bukan tempat bagi penguasa yang datang dengan niat pamer.
“Kediri iku dudu papan kanggo wong sing mung arep pamer kuwasa.”
(Kediri bukan tempat bagi orang yang hanya ingin memamerkan kekuasaan).
Sejak itulah muncul keyakinan bahwa Kediri “menolak” kesombongan. Bukan dengan bencana besar, melainkan kekuasaan yang akan goyah, jabatan runtuh, atau reputasi perlahan memudar.
Sebelum dicokok KPK, Walikota Madiun, Maidi berkunjung ke Kediri. Ia bersama Walikota Kediri, Vinanda Prameswati, bersepeda menyusuri sejumlah ruas jalan Kota Kediri.
Hal ini bagian dari simbol kebersamaan sekaligus komitmen memperkuat kolaborasi antar daerah.
Namun hal tersebut merupakan sebuah Mitos, yang bisa dipercaya ataupun tidak.
Editor : Putra
Artikel Terkait
