Gondola Jadi Tumpuan Warga Perbatasan Ponorogo Trenggalek di Tengah Keterbatasan
PONOROGO, iNewsPonorogo.id - Putusnya sebuah jembatan diperbatasan antara Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Trenggalek, seakan memutus urat nadi kehidupan warga ribuan Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Ponorogo, dan Desa Depok, Kecamatan Panggul, Trenggalek.
Sejak sebulan yang lalu, saat jembatan yang dikenal dengan nama Jabak ini putus, bukan hanya memutus akses aktifitas warga, namun juga denyut ekonomi. Begitupun langkah anak-anak untuk menimba ilmu ke sekolah terlebih saat hujan turun deras.
Bagi warga Desa Gedangan, guna memenuhi kenutuhan, mereka lebih dekat menyeberang ke Trenggalek, seperti pemenuhan kesehatan, hingga untuk berbelanja ke pasar, dibanding ke Kecamatan Ngrayun atau Kota Ponorogo.
“Karena ini bukan sekadar lintas desa, tapi lintas antar kabupaten. Sekolah dekatnya ke Trenggalek, rumah sakit juga warga memilih ke Trenggalek,” kata Sumarno, perangkat Desa Gedangan.
Jembatan memang menjadi satu-satunya akses yang terdekat harus putus. Jika harus memutar lewat jalur lain, warga harus menempuh jarak hingga 20 kilometer. Bagi masyarakat perbatasan dengan penghasilan yang terbatas, jelas kalau memutar jarak akan menambah ongkos, waktu, dan tenaga. Bahkan kondisi darurat pun mereka memilih menyeberang sungai ini.
“Kalau darurat, orang sakit ya harus digendong lewat sini,” ungkapnya.
Kini harapan satu-satunya adalah Gondola, atau kereta gantung darurat yang dikerek hasil gotong royong. Setiap hari, mulai dari anak-anak, hingga para pekerja menyeberang sungai bertaruh nyawa, terlebih ketika debit air sungai naik, rasa waswas semakin tinggi.
“Karena jembatan terputus, terpaksa lewat sini setiap hari. Takut pas nyeberang, apalagi kalau banjir besar,” terang Riski Kurniawan, pelajar SMA.
Editor : Putra