Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Bisakah Bulan dan Matahari Muncul Bersamaan, Ini Penjelasannya
Advertisement . Scroll to see content

Penjelasan Fenomena Full Buck Supermoon Menghiasi Langit Indonesia

Kamis, 14 Juli 2022 | 05:00 WIB
  • author Ahmad Muhajir
Penjelasan Fenomena Full Buck Supermoon Menghiasi Langit Indonesia
Waspada dampak fenomena Full Buck Supermoon besok hingga 16 Juli mendatang (Foto: Star Walk)

JAKARTA, iNews.id - Fenomena astronomi Full Buck Supermoon atau Bulan Purnama Rusa Super diketahui bakal terjadi hari ini.

Diolah dari laman EDUSAINSA BRIN (LAPAN), Rabu (13/7/2022), Bulan Purnama Rusa ini bukan berarti satelit Bumi akan berbentuk seperti rusa, tetapi penamaannya berdasarkan The Farmer's Almanac.

Peneliti di Pusat Sains dan Atariksa BRIN (LAPAN), Andi Pangeran, menjelaskan bahwa Full Buck Supermoon atau Bulan Purnama Rusa ini menandakan rusa jantan muda mulai tumbuh tanduk di bulan Juli.

Andi menjelaskan, fenomena Full Buck Supermoon akan berlangsung pada Kamis (14/7/2022), pukul 01.57 WIB, 02.57 WITA, 03.57 WIT (pada jarak 357.418 km).

Fenomena ini, bisa disaksikan secara langsung tanpa bantuan alat optik apapun, asalkan cuaca cerah, tidak mendung, Full Buck Supermoon dapat dilihat dengan mata telanjang.

"Untuk menyaksikan fenomena ini, masyarakat cukup arahkan pandangan sesuai arah terbit hingga terbenamnya Bulan pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya," ujar Andi.

Sementara itu, dia mengingatkan, Bulan Purnama Rusa ini sama seperti fase Bulan baru pada umumnya, di mana dapat menimbulkan pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari biasanya.

“Adanya konfigurasi Matahari-Bumi-Bulan atau bisa juga Matahari-Bulan-Bumi yang berada di posisi segaris membuat timbulnya pasang yang lebih besar. Apalagi konfigurasi ini juga diperkuat dengan Bulan yang berada di titik terdekatnya dengan Bumi,” terangnya.

Menurut dia, pasang laut tertinggi akan terjadi pada 14 Juli, sehingga disarankan bagi nelayan untuk tidak melaut di dua hari sebelum dan dua hari sesudah puncak fenomena ini, yakni antara 12 hingga 16 Juli 2022.

“Perhitungan ini hanya mempertimbangkan faktor astronomis saja tanpa melihat gelombang laut akibat badai angin,” lanjut Andi.

 

 

Editor: Putra

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut