get app
inews
Aa Text
Read Next : Makna Filosofi Dibalik Logo Sekar Kinanthi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo

Kesenian Mistis Tari Keling Asli Ponorogo, Hanya Bisa Dimainkan Warga Dusun Mojo

Minggu, 12 Juli 2026 | 13:57 WIB
header img
Tari Keling adal Dusun Mojo Ponorogo tetap dilestarikan hingga saat ini oleh warga desa setempat foto: iNewsPonorogo.id/Putra

PONOROGO, iNewsPonorogo.id - Kabupaten Ponorogo memang kaya akan budaya dan kesenian tradisional, selain Reog ternyata, ada kesenian yang terbilang cukup tua, yaitu Tari Keling yang ada di Dusun Mojo, Desa Singgahan, Kecamatan Pulung, yang hingga kini tetap lestari dan dimainkan oleh warga setempat secara turun-temurun.

Keunikan Tari Keling tidak hanya terletak pada cerita yang diangkat, tetapi juga pada tradisi pewarisan, ritual pertunjukan, hingga tata rias para penarinya yang menjadikan kesenian ini berbeda.

Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Dusun Mojo tetap mempertahankan Tari Keling sebagai identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pertunjukan Tari Keling selalu diawali dengan tabuhan alat musik pengiringnya. Kemudian belasan penari laki-laki dengan tubuh berwarna hitam pekat sambil membawa berbagai senjata tradisional seperti tombak, pedang, panah, hingga gada. Tidak hanya itu, ada juga penari perempuan mengenakan busana sederhana berbahan karung goni dengan hiasan bulu ayam di kepala. Mirip dengan busana suku Dayak.

Sesepuh Dusun Mojo, Wiyoto, mengatakan Tari Keling diyakini telah ada jauh sebelum kesenian Reog.

"Di dusun ini, Tari Keling sudah ada sebelum Reog. Kami hanya meneruskan apa yang diwariskan nenek moyang. Meski asal-usulnya memang belum diketahui," katanya.

Menurut cerita para leluhur, kesenian tersebut telah dimainkan sejak masa buyutnya, Karyonawi, sekitar tahun 1922.

Kala itu, Dusun Mojo mengalami kemarau panjang yang menyebabkan gagal panen dan krisis pangan. Kondisi tersebut semakin berat karena bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri.

Para sesepuh desa bermusyawarah untuk membangkitkan semangat masyarakat. Dari sanalah lahir sebuah tradisi yang memadukan doa, hiburan, serta harapan yang kemudian dikenal sebagai Tari Keling.

"Dulu orang tua kami bercerita, seni ini dipakai supaya masyarakat tetap kuat menghadapi paceklik," ungkap Wiyoto.

Berbeda dengan kesenian lain yang bisa dipentaskan kapan saja, Tari Keling hanya dimainkan pada momentum tertentu yang dianggap sakral.

Salah satunya pada bulan Suro, Hari Raya Idulfitri, maupun kegiatan adat tertentu.

Setiap pementasan diawali dengan perjalanan menuju sumber mata air desa yang dikenal sebagai Kucur.

Dilokasi tersebut para penari melaksanakan tarian menetap atau iker sebelum melanjutkan arak-arakan mengelilingi kampung.

Prosesi itu dipercaya sebagai simbol permohonan keselamatan, keberkahan hasil panen, serta harapan agar masyarakat dijauhkan dari musibah dan paceklik seperti yang pernah dialami leluhur mereka.

Anak-anak desa tumbuh dengan menyaksikan orang tua dan kakeknya menari. Ketika dewasa, mereka bergantian mengenakan kostum yang sama untuk meneruskan tradisi tersebut.

"Mereka yang memainkan Keling ya anak-anak dusun saja. Dulu pernah ada daerah lain yang mencoba membuat seni seperti ini, tetapi hanya sekali tampil setelah itu berhenti," terangnya.

Sebelum tampil, seluruh tubuh mereka dilumuri campuran bubuk arang dan minyak kelapa hingga berwarna hitam pekat sebagai simbol prajurit Kerajaan Tambas Keling.

Lulus Setiawan (32), salah seorang penari yang telah enam tahun mengikuti pementasan Tari Keling, mengaku proses tersebut menjadi pengalaman tersendiri.

"Kalau mau tampil di luar daerah, kami sering harus minta izin dulu waktu mewarnai tubuh karena takut mengotori tempat," pungkas Lulus.

Meski demikian, dirinya tidak pernah merasa keberatan karena menganggap warna hitam tersebut merupakan bagian dari identitas tokoh yang diperankannya.

Di tengah berkembangnya berbagai bentuk hiburan modern, warga Dusun Mojo tetap berkomitmen menjaga Tari Keling agar tidak punah.

Bagi masyarakat setempat, kesenian ini bukan sekadar pertunjukan rakyat, melainkan pengingat sejarah kampung, simbol perjuangan leluhur menghadapi masa paceklik, sekaligus warisan budaya yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Editor : Putra

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut