Jangan Asal Pelihara! Ini Cara Ternak Ayam Kampung Untuk Orang Sibuk
PONOROGO, iNewsPonorogo.id - Beternak ayam kampung sering dianggap hanya cocok bagi orang yang memiliki banyak waktu di rumah. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Orang yang memiliki pekerjaan utama tetap bisa menjalankan usaha ternak ayam kampung skala rumahan.
Membuat peternakan yang sepenuhnya tanpa pengawasan, melainkan membangun sistem yang memungkinkan pekerjaan utama dilakukan pada waktu tertentu, terutama pagi sebelum berangkat kerja dan sore setelah pulang.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan bagi pemula adalah langsung membeli ayam dalam jumlah banyak karena berharap keuntungan yang diperoleh juga semakin besar.
Jumlah ayam yang semakin banyak berarti kebutuhan pakan, air, ruang kandang, kebersihan dan pemantauan kesehatan juga meningkat.
Bagi pekerja, memulai dari jumlah ayam yang masih mudah diperiksa menjadi pilihan yang lebih aman.
Pastikan ayam dapat diberi makan dan minum, kondisi kandang dapat diperiksa, serta ayam yang menunjukkan perubahan perilaku bisa segera dikenali dalam waktu singkat.
Jika rutinitas tersebut sudah berjalan stabil, jumlah ayam dapat ditambah secara bertahap.
Bagi orang yang bekerja, kandang bukan sekadar tempat ayam dipelihara.
Desain kandang yang tepat dapat menentukan apakah aktivitas beternak hanya membutuhkan waktu singkat atau justru menyita banyak waktu setiap hari.
Tempat pakan dan minum sebaiknya mudah dijangkau. Pintu kandang juga perlu dibuat praktis sehingga pemeriksaan dapat dilakukan tanpa harus memindahkan banyak peralatan.
Kandang harus mampu melindungi ayam dari hujan, panas berlebihan dan gangguan hewan lain. Sirkulasi udara juga perlu diperhatikan agar kandang tidak terlalu lembap.
Bagi pekerja, kandang sederhana yang mudah dibersihkan justru lebih menguntungkan dibandingkan kandang rumit yang membutuhkan banyak pekerjaan manual.
Tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengetahui kondisi ternak. Pemeriksaan singkat pada pagi dan sore hari dapat difokuskan pada perubahan yang mudah terlihat.
Perhatikan nafsu makan, aktivitas, cara berjalan, kondisi bulu, mata, pernapasan hingga bentuk kotoran.
Jika ada ayam yang terlihat berbeda dari biasanya, segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Ayam yang terlihat sakit sebaiknya dipisahkan dari kelompok untuk memudahkan pemantauan dan mengurangi kontak dengan ayam lainnya.
Pemilihan wadah pakan dan minum juga dapat menghemat waktu. Tempat pakan sebaiknya memiliki kapasitas sesuai jumlah ayam dan kebutuhan selama pemilik berada di luar rumah.
Pakan tidak boleh dibiarkan terlalu lama dalam kondisi terbuka karena berisiko kotor atau lembap. Tempat minum bahkan perlu mendapat perhatian lebih.
Gunakan wadah yang stabil, tidak mudah terbalik dan mudah dibersihkan. Posisi wadah juga dapat dibuat sedikit lebih tinggi dari permukaan yang mudah tercampur kotoran.
Jika jumlah ayam sudah bertambah, sistem pakan atau minum otomatis maupun semiotomatis dapat dipertimbangkan. Tetapi sistem tersebut tetap harus diperiksa secara rutin.
Menunggu kandang benar-benar kotor sebelum dibersihkan justru dapat membuat pekerjaan semakin berat.
Sisa pakan, air yang tumpah dan bagian lantai yang lembap sebaiknya segera ditangani ketika ditemukan. Pembersihan ringan bisa dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan ayam.
Pakan yang tercampur kotoran dapat dibuang, wadah air yang kotor segera dibersihkan dan bagian kandang yang terlalu basah diperiksa.
Kebiasaan kecil tersebut dapat mengurangi pekerjaan pembersihan besar di kemudian hari.
Ayam kampung memang dikenal cocok dipelihara dengan sistem umbaran. Namun, bagi pemilik yang bekerja di luar rumah, ayam yang dibiarkan berkeliaran sepanjang hari justru dapat menimbulkan masalah.
Ayam bisa masuk ke halaman tetangga, merusak tanaman, sulit ditemukan saat sore atau terkena gangguan hewan lain. Solusinya, peternak dapat membuat area umbaran yang dibatasi pagar.
Ayam tetap mempunyai ruang untuk bergerak, tetapi keberadaannya lebih mudah dipantau. Area tersebut sebaiknya memiliki tempat berteduh dan tidak mudah berubah menjadi becek ketika hujan.
Beternak ayam kampung tetap merupakan usaha yang membutuhkan perhitungan, meskipun hanya dilakukan di belakang rumah.
Pemilik perlu mencatat pembelian bibit, pakan, obat, perbaikan kandang, kematian ayam dan hasil penjualan.
Pencatatan tidak perlu rumit. Buku kecil atau aplikasi catatan di ponsel sudah cukup untuk mengetahui perkembangan usaha.
Catatan tersebut menjadi penting ketika peternak ingin menambah jumlah ayam. Jika kebutuhan pakan dan waktu perawatan sudah melebihi kemampuan, menambah populasi justru dapat menjadi beban.
Sebaliknya, jika sistem sudah stabil dan biaya dapat dikendalikan, jumlah ternak dapat ditingkatkan secara bertahap.
Cara ternak ayam kampung sambil bekerja bukan tentang bagaimana membuat ayam tidak perlu diawasi, melainkan bagaimana membuat sistem pemeliharaan yang efisien.
Editor: Putra