SOLO, iNewsPonorogo.id - Sebanyak 21.000 halaman manuskrip kuno Keraton Surakarta mulai dilakukan didigitalisasi untuk menjaga warisan literasi sekaligus memperluas akses bagi peneliti dan masyarakat.
Digitalisasi tersebut menyasar 210 manuskrip koleksi Sasono Pustoko melalui proyek Endangered Archives Programme (EAP) 1830. Program resmi dimulai dan ditargetkan berlangsung selama dua tahun.
Proyek digitalisasi manuskrip kuno Keraton Surakarta ini dikerjakan melalui kolaborasi antara Keraton Surakarta, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa), dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.
Program tersebut mendapat dukungan Endangered Archives Programme dari British Library serta pendanaan dari Arcadia Foundation.
Pengageng Sasono Wilopo sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GKR Wandansari atau Gusti Moeng, mengatakan program digitalisasi telah dipersiapkan selama sekitar satu setengah tahun.
Menurutnya, proses persiapan tersebut dilakukan hingga seluruh kebutuhan administrasi proyek dapat diselesaikan.
“Hari ini kita mengadakan selamatan untuk memulai proyek digitalisasi yang dibantu Manasa dan Perpusnas. Program ini sudah kami rancang satu setengah tahun lalu dan alhamdulillah administrasinya selesai,” terang Gusti Moeng.
Dia menjelaskan, manuskrip yang tersimpan di Sasono Pustoko menjadi bagian penting dari perjalanan literasi Keraton Surakarta.
Koleksi tersebut sebelumnya tersebar dan kemudian dihimpun pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X sekitar 1920. Sebagian naskah selanjutnya ditempatkan di Perpustakaan Radya Pustaka pada 1926.
Abdi Dalem Sasono Pustoko, KRAT Supardjo Dwijo Hadi Nagoro, mengatakan manuskrip yang akan didigitalisasi tidak hanya berisi catatan sejarah.
Koleksi tersebut menyimpan pengetahuan dari berbagai bidang, mulai dari agama, filsafat, sastra, kesenian, arsitektur, pengobatan, primbon hingga pranata mangsa.
“Banyak peneliti datang untuk mengkaji berbagai hal, seperti ramuan herbal, pranata mangsa untuk pertanian hingga arsitektur bangunan Jawa,” jelas Supardjo.
Dengan demikian, digitalisasi diharapkan tidak hanya menjaga kondisi fisik manuskrip, tetapi juga membantu membuka akses terhadap pengetahuan yang tersimpan di dalamnya.
Proses dalam proyek EAP 1830 tidak hanya berupa pemotretan atau pemindaian halaman manuskrip.
Tim juga melakukan penyusunan katalog dan metadata untuk setiap naskah. Selain itu, terdapat pelatihan teknis serta kegiatan konservasi dan reparasi terhadap manuskrip yang mengalami kerusakan.
Langkah tersebut dilakukan agar informasi mengenai koleksi manuskrip dapat terdokumentasi dengan lebih baik sekaligus mendukung upaya pelestarian naskah dalam jangka panjang.
Perwakilan Perpusnas, Aris Riyadi, mengatakan hasil digitalisasi nantinya akan disimpan di sejumlah lembaga yang terlibat dalam proyek tersebut.
“Dengan begitu, khazanah literasi peninggalan leluhur ini dapat disebarluaskan dan diakses oleh dunia internasional,” pungkas Aris.
Proyek digitalisasi manuskrip Keraton Surakarta tersebut juga melibatkan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS).
Keterlibatan mahasiswa diharapkan turut mendukung proses dokumentasi sekaligus memberikan pengalaman dalam pengelolaan dan pelestarian manuskrip kuno.
Digitalisasi 21.000 halaman manuskrip tersebut diharapkan dapat memperluas akses terhadap koleksi Sasono Pustoko yang selama ini memiliki keterbatasan akses.
Editor : Putra
Artikel Terkait
