PONOROGO, iNewsPonorogo.id - Sebuah tradisi yang sudah ada sejak lama di Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Ponorogo tetap dilestarikan hingga saat ini. Selain menjadi moment kebersamaan masyarakat adat setempat, ritual yang diberi nama Methik ini, adalah bentuk rasa syukur atas limpahan hasil panen padi.
Sebelum ritual Methik dilakukan, warga bersama sejumlah sesepuh dan kepala berjalan kaki atau arak-arakan dari balai desa menuju area persawahan. Selain itu ada dua sosok penari yang diberi nama Raden Sedoni dan Roro Blonyoh. Keduanya merupakan simbol kemakmuran para petani.
Diarea persawahan tempat ritual dibikinkan ada tangga yang mengisyaratkan bahwa Dewi Sri turun dari kayangan ke Desa Glinggang untuk memberikan sumber kemakmuran.
Selain itu didalam arak-arakan juga ada ratusan tumpeng yang dibawa warga untuk nanti dimakan secara bersama-sama.
“Tradisi atau ritual Methik ini rutin digelar setiap jelang panen raya padi,” kata salah satu warga, Suwarti.
Ritual Methik tidak sekadar kegiatan rutin, melainkan sebagai bentuk wujud syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil bumi sekaligus penanda datangnya panen raya.
“Kami melaksanakan Methik sebagai wujud rasa syukur atas yang berlimpah,” terangnya.
Sementara itu tokoh masyarakat sekaligus sesepuh Desa Glinggang, Riyanto, menjelaskan bahwa ritual ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat adat desa setempat.
“Tradisi ini mengandung nilai kebersamaan, rasa hormat kepada alam, serta pengingat agar selalu bersyukur atas apa yang diperoleh,” jelasnya.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, mengatakan bahwa ritual atau tradisi Methik ini memang sudah menjadi pelestarian budaya dan destinasi wisata. Sehingga setiap tahunnya harapannya selalu lebih meriah.
“Tahun 2026 ini sudah masuk KEPO (Kharisma Event Ponorogo). Artinya kegiatan ini bisa jadi agenda pariwisata yang ada di Ponorogo,” pungkasnya.
Editor : Putra
Artikel Terkait
