Abdi Dalem Sasono Pustoko, KRAT Supardjo Dwijo Hadi Nagoro, mengatakan manuskrip yang akan didigitalisasi tidak hanya berisi catatan sejarah.
Koleksi tersebut menyimpan pengetahuan dari berbagai bidang, mulai dari agama, filsafat, sastra, kesenian, arsitektur, pengobatan, primbon hingga pranata mangsa.
“Banyak peneliti datang untuk mengkaji berbagai hal, seperti ramuan herbal, pranata mangsa untuk pertanian hingga arsitektur bangunan Jawa,” jelas Supardjo.
Dengan demikian, digitalisasi diharapkan tidak hanya menjaga kondisi fisik manuskrip, tetapi juga membantu membuka akses terhadap pengetahuan yang tersimpan di dalamnya.
Proses dalam proyek EAP 1830 tidak hanya berupa pemotretan atau pemindaian halaman manuskrip.
Tim juga melakukan penyusunan katalog dan metadata untuk setiap naskah. Selain itu, terdapat pelatihan teknis serta kegiatan konservasi dan reparasi terhadap manuskrip yang mengalami kerusakan.
Langkah tersebut dilakukan agar informasi mengenai koleksi manuskrip dapat terdokumentasi dengan lebih baik sekaligus mendukung upaya pelestarian naskah dalam jangka panjang.
Perwakilan Perpusnas, Aris Riyadi, mengatakan hasil digitalisasi nantinya akan disimpan di sejumlah lembaga yang terlibat dalam proyek tersebut.
“Dengan begitu, khazanah literasi peninggalan leluhur ini dapat disebarluaskan dan diakses oleh dunia internasional,” pungkas Aris.
Proyek digitalisasi manuskrip Keraton Surakarta tersebut juga melibatkan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS).
Keterlibatan mahasiswa diharapkan turut mendukung proses dokumentasi sekaligus memberikan pengalaman dalam pengelolaan dan pelestarian manuskrip kuno.
Digitalisasi 21.000 halaman manuskrip tersebut diharapkan dapat memperluas akses terhadap koleksi Sasono Pustoko yang selama ini memiliki keterbatasan akses.
Editor : Putra
Artikel Terkait
