Sarasehan Nasional 100 Tahun Gontor Ponorogo, Ada Pesan Mendalam dari Wamenag
PONOROGO, iNewsPonorogo.id - Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menjadi momentum refleksi sekaligus penegasan peran strategis pesantren dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sejumlah tokoh nasional, alumni, ulama, hingga pejabat pemerintah hadir dalam Sarasehan Nasional yang merupakan rangkaian Milad 100 Tahun Gontor di Kabupaten Ponorogo.
Salah satu tokoh yang hadir, yaitu Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid yang juga merupakan Alumnus Gontor angkatan 1978 itu mengungkapkan bahwa pesantren adalah lembaga yang berdiri untuk menjadi bagian penting yang turut membangun Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan.
Menurut Hidayat, selama satu abad berdiri, Gontor telah memberikan kontribusi besar bagi pendidikan Islam di Indonesia melalui lahirnya ratusan pesantren dan ribuan alumni yang tersebar di berbagai bidang.
“Ini adalah amal saleh yang luar biasa. Bukan hanya besar dari sisi jumlah pesantrennya, tetapi juga besar dari karya, sedekah jariyah, dan ilmu yang bermanfaat yang dirasakan umat Islam maupun bangsa Indonesia,” kata Hidayat.

Lanjutnya Hidayat menambahkan bahwa banyaknya alumni Gontor yang berkiprah dalam lembaga negara dan berbagai sektor strategis nasional. Kontribusi alumni Gontor tidak hanya terlihat dalam bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga dalam proses pembangunan demokrasi serta perjalanan ketatanegaraan. Ada filosofi pendidikan Gontor yang mengajarkan kecintaan kepada orang tua, pondok, dan tanah air.
“Kita diajarkan memiliki tiga ibu, yaitu ibu kandung, ibu pondok, dan Ibu Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Agama RI, Muhammad Syafi'i, menyampaikan apresiasi Presiden Prabowo Subianto atas perjalanan panjang Gontor yang mampu bertahan dan berkembang selama 100 tahun.
Menurut Syafi’i, keberlangsungan Gontor selama satu abad menjadi bukti kuatnya nilai keikhlasan, kemandirian, dan gotong royong yang diwariskan para pendiri pondok.
“Presiden sangat bangga karena Gontor mampu bertahan selama 100 tahun. Itu menunjukkan nilai keikhlasan, kemandirian, dan gotong royong yang terus dijaga,” jelasnya.
Meski demikian, Syafi’i mengingatkan adanya tantangan baru yang dihadapi pesantren di era modern. Salah satunya adalah munculnya berbagai narasi negatif yang berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan berbasis pesantren.
Ia mengaku sejumlah pesantren di berbagai daerah mengalami penurunan jumlah pendaftar akibat maraknya pemberitaan mengenai kasus-kasus tertentu yang kemudian digeneralisasi terhadap seluruh pesantren.
“Saat masa penerimaan santri baru, sering muncul berbagai pemberitaan negatif tentang pesantren. Mulai isu perundungan hingga kekerasan. Dampaknya, jumlah pendaftar di beberapa pesantren menurun,” ungkapnya.
Dalam Sarasehan Nasional Milad 100 Tahun Gontor, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menegaskan bahwa perjalanan satu abad Gontor bukanlah alasan untuk berbangga diri, melainkan momentum untuk bersyukur dan meningkatkan kualitas pendidikan di masa depan.
Menurutnya, keberhasilan Gontor bertahan selama 100 tahun menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang dibangun para pendiri pondok mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati diri.
“Ini membesarkan hati kita dan anak-anak kita. Gontor bukan melayani konsumen, tetapi membangun dan menawarkan sistem pendidikan yang dirintis hingga bertahan selama 100 tahun,” terang KH Hasan Abdullah Sahal.
Ia berharap generasi penerus mampu melanjutkan perjuangan para pendiri dengan menghadirkan inovasi yang lebih baik tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi ruh pendidikan Gontor.
“Di akan datang harus lebih baik dari sekarang. Semua ini bukan untuk berbangga, tetapi sebagai bentuk syukur dan ikhtiar agar pondok terus berbuat untuk umat,” pungkasnya.
Editor : Putra