PONOROGO, iNewsPonorogo.id - Sebuah band asal Yogyakarta viral dan jadi perbincangan, usai penampilannya Mataraman Rockfest 2026, berkolaborasi dengan kesenian Reog Ponorogo.
Band beraliran alternatif rock yang hanya tiga player, yaitu Michael Aaron Donisputro, Muhammad Haidar, dan Valentino Austin, memang sengaja membuat kolaborasi tidak hanya penari Bujang Ganong, dan Reog, namun juga diiringi musik kesenian asal Ponorogo, meski hanya dengan kendang serta slompret.
Didalam penampilannya Black Langues membawakan empat lagu karya mereka sendiri, yakni Dream, Happy, Cursed Paper, dan lagu Reset yang dipadukan dengan Reog Ponorogo.
"Latihannya cuma dua jam dengan para seniman Reog Ponorogo," kata vokalis sekaligus gitaris Black Langues, Michael Aaron Donisputro.
Lanjutnya, sang vokalis akrab disapa Erren itu menambahkan bahwa ide menggabungkan musik rock dengan instrumen Reog muncul saat dirinya mencari unsur etnik untuk memperkaya aransemen musik bandnya.
Perkenannya dengan dengan Ponorogo berawal dari sang ibu, Maria Theresia Ninis, yang memang warga asli Ponorogo, lebih tepatnya anak Desa Slahung.
"Ingin ada instrumen etnik dalam musik kami. Karena ibu asli Ponorogo, akhirnya kami mencoba menggandeng seniman Reog dan menggunakan instrumen khas Reog Ponorogo," terangnya.
Masih menurut Erren pada proses latihan sempat menemui kendala karena perbedaan karakter antara alat musik modern dan tradisional, meski akhirnya busa menyatu dengan baik dan menemukan harmoni yang tepat.
"Awalnya ada sedikit miskomunikasi karena alat musiknya berbeda. Tapi karena sama-sama memahami teori musik, akhirnya bisa menyatu," ungkapnya.
Salah satu momen paling menarik dalam penampilan Black Langues terjadi saat Erren memainkan gitar sambil berdiri di atas Dadak Merak Reog Ponorogo.
Aksi tersebut sontak memancing kehebohan penonton yang memadati area panggung utama Mataraman Rockfest.
"Agak ngeri memang. Untungnya tetap bisa bermain gitar sampai selesai," ungkapnya.
Sementara itu Ketua Dewan Kesenian Ponorogo, Wisnu HP yang memang ikit membantu dalam proses penampilan kolaborasi musik rock dengan kesenian Reog Ponorogo ini, memberikan apresiasi tinggi.
"Saat Black Langues tampil, itu bukan sekadar konser rock biasa. Hentakan drum beradu dengan kendang Reog, gitar bersahutan dengan slompret, menjadi kolaborasi yang Epic," jelas Wisnu.
Kolaborasi tersebut memiliki makna penting bagi upaya pelestarian budaya, terutama setelah Reog Ponorogo resmi masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO kategori Urgent Safeguarding List.
"Ini jadi bukti bahwa Reog bukan artefak museum. Reog bisa membaca zaman, masuk ke berbagai ruang kreatif, termasuk musik rock,” pungkasnya.
Band Black Langues sendiri memiliki filosofi yang cukup unik. Kata Black dimaknai sebagai sesuatu yang gelap, samar, atau absurd, sedangkan Langues berasal dari bahasa Prancis yang berarti bahasa atau media komunikasi.
Editor : Putra
Artikel Terkait
