Mirip di Gunung Kidul, Ada Pertunjukan Sendratari Mystical of Telaga Ngebel Ponorogo
PONOROGO – Suasana malam di kawasan wisata Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, mendadak semarak. Dermaga telaga yang biasanya menawarkan panorama alam dan ketenangan pegunungan berubah menjadi panggung seni budaya melalui pertunjukan sendratari Mystical of Telaga Ngebelbertajuk “Larung Rasa Sang Lelana”.
Pertunjukan tersebut menyedot perhatian masyarakat dan wisatawan. Pengunjung memadati kawasan tepian telaga sejak menjelang acara dimulai. Keramaian malam itu bahkan terlihat jauh lebih ramai dibandingkan hari-hari biasa.
Perpaduan tata cahaya, gerak tari, musik, dan udara sejuk khas Ngebel menghadirkan pengalaman seni yang berbeda. Bentang telaga yang gelap berkilau oleh cahaya panggung turut memperkuat suasana dramatik sepanjang pertunjukan.

Sendratari ini tidak sekadar menyuguhkan hiburan, tetapi juga membawa penonton menyelami perjalanan batin seorang lelana melalui gerak, ekspresi, dan atmosfer alam.
Pertunjukan bertajuk “Larung Rasa Sang Lelana” digarap oleh dua koreografer, Nila Ainun Luthfiyah dan Nanda. Sementara itu, Yuana Febrianti bertindak sebagai produser.
Para penari yang tampil merupakan anggota Sanggar Tari Kawasita di bawah pimpinan Nila Ainun Luthfiyah. Kolaborasi para seniman tersebut menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan pertunjukan yang memadukan ekspresi tubuh dengan karakter alam Telaga Ngebel.
“Setiap gerakan dibangun untuk menghadirkan suasana yang puitis, dramatik, sekaligus menyatu dengan karakter alam Telaga Ngebel,” kata Nila Ainun.
Koreografi yang disajikan memanfaatkan gerak tubuh, ekspresi, dan suasana malam untuk membangun pengalaman dramatik. Latar pegunungan, udara sejuk, serta bentang telaga menjadi bagian penting dari atmosfer pertunjukan.
Melalui rangkaian adegan, penonton diajak mengikuti perjalanan rasa sang lelana yang menggambarkan pencarian, perenungan, perjalanan batin, hingga hubungan manusia dengan alam.
“Pemilihan nama Mystical of Telaga Ngebel pun terasa selaras dengan karakter lokasi. Ketika malam turun dan cahaya panggung memantul di sekitar telaga, pertunjukan memperoleh atmosfer alami yang sulit ditemukan dalam panggung konvensional,” terangnya.
Gelaran seni budaya tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan tamu undangan. Di antaranya Camat Ngebel Andri Hendhratmoyo, Ketua Pakasa Gebang Tinatar KP. Gendut Wreksodiningrat, Ketua Pepadi KRAT Sindu Parwoto, serta unsur Kasepuhan Wilis Sewu.
Pertunjukan seni sebagai ruang pertemuan antara pemerintah, pelaku budaya, seniman, masyarakat, dan wisatawan. Lebih dari sekadar hiburan, pertunjukan seperti ini menambah daya tarik kawasan wisata.
“Acara semacam ini memiliki potensi memperkuat identitas Telaga Ngebel sebagai destinasi yang menawarkan lebih dari sekadar panorama alam,” ungkap KP. Gendut.
Telaga Ngebel memiliki peluang untuk menghadirkan kegiatan budaya yang menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan. Antusiasme pengunjung turut berdampak pada ekonomi masyarakat sekitar. Selain menyaksikan sendratari, wisatawan dapat menikmati mencicipi kuliner maupun membeli produk lokal UMKM yang menjadi bagian dari rangkaian acara.
“Kehadiran bazar UMKM menunjukkan bahwa event budaya memiliki efek yang lebih luas karena ketika wisatawan datang, perputaran ekonomi lokal turut bergerak,” pungkasnya.
Editor: Putra