PONOROGO, iNewsPonorogo.id - Sebuah inovasi teknologi diciptakan oleh tiga siswa yang masih duduk di kelas 11 madrasah aliyah di Ponorogo. Dimana Mereka mengembangkan website digitalisasi sebuah situs sejarah dan wisata Sendang Beji yang dilengkapi visualisasi tiga dimensi (3D), cerita rakyat, linimasa sejarah, hingga fitur jelajah lingkungan secara virtual.
Ketiga siswa MAN 2 Ponorogo tersebut adalah Auliya Fathiyyatul Maghfiroh kelas XI, Ilham Rofi Anugrah kelas XI, dan Annisa Tri Yulianti kelas XII. Bahkan karya mereka menjadi juara 1 pada Lomba Penulisan Sejarah Lokal yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur 2026.
Ilham Rofi Anugrah (16) menjelaskan, website tersebut dirancang agar masyarakat bisa mengenal situs Sendang Beji melalui media digital yang lebih interaktif.
Pengunjung tidak hanya membaca informasi atau melihat foto, tetapi juga dapat memutar visualisasi patung 3D, membaca cerita rakyat dan mitos setempat, serta melihat linimasa sejarah dan dokumentasi hasil observasi.
“Ini website gunanya buat mendigitalisasikan situs dari Beji. Website-nya tidak cuma menampilkan patung dalam bentuk 3D, tetapi juga ada cerita rakyat atau mitosnya, deskripsi lain, linimasa sejarah, dan dokumentasi waktu observasi,” kata Ilham.
Menurut Ilham, penggunaan teknologi 3D dipilih karena foto dan video memiliki keterbatasan dalam menampilkan objek. Melalui model tiga dimensi, pengguna bisa melihat dan memutar objek dari berbagai sudut.
“Kalau foto dan video itu kurang interaktif dan sifatnya linear atau satu arah. Pengguna tidak bisa melihat sisi lain yang tidak terekam kamera. Nah, dengan 3D ini objeknya bisa diputar-putar,” jelasnya.
Dalam proses pembuatan, tim menggunakan aplikasi Polycam dengan metode photogrammetry untuk memindai objek. Pemindaian dilakukan menggunakan iPhone seri Pro yang memiliki sensor LiDAR.
Hasil pemindaian kemudian diolah menggunakan Blender untuk merapikan model 3D. Sementara desain website melewati beberapa tahapan, mulai dari Canva, Google Stitch, hingga Figma.
Setelah desain selesai, mereka memanfaatkan AI Agent atau coding agent untuk membantu mengubah rancangan tersebut menjadi kode website.
Ilham menegaskan, kecerdasan buatan hanya digunakan untuk membantu proses pemrograman, bukan menentukan desain.
“Fungsi coding agent itu cuma mengonversi desain menjadi website, bukan yang menentukan desainnya. Jadi seperti kita desain poster, kemudian dijadikan website, AI itu membantu menulis kodenya,” ungkapnya.
Hal menarik lainnya, karya ketiga siswa ini tidak hanya berfokus pada digitalisasi sejarah. Mereka juga mengembangkan konsep inklusivitas melalui laboratorium 16 sendi biomekanik tangan dalam bentuk 3D.
Fitur tersebut dirancang ramah bagi pengguna Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Saat ini, fitur masih berupa prototipe dan menggunakan daktilologi satu tangan untuk mengeja kata asing atau istilah yang belum tersedia dalam bahasa isyarat.
Auliya Fathiyyatul Maghfiroh mengatakan, fitur tersebut dihadirkan agar digitalisasi sejarah bisa diakses lebih luas, termasuk oleh teman-teman tuna rungu dan difabel lainnya.
“Teman-teman yang memiliki keterbatasan terlebih tuna rungu juga bisa mengakses Website ini karena dilengkapi dengan bahasa isyarat ,” tambahnya.
Kepala MAN 2 Ponorogo, Agung Drajatmono, menyatakan pihak sekolah juga melakukan pendampingan kepada anak-anak yang memang punya potensi untuk berprestasi baik akademik maupun non akademik. Hal ini dapat menambah pengalaman dan prestasi mereka.
“Apapun langkah anak-anak untuk meraih prestasi kami selalu mendukung penuh. Selama membuat dan mengikuti kompetisi kita beri pendampingan,” pungkas Agung.
Editor : Putra
Artikel Terkait
