Sarasehan Nasional 100 Tahun Gontor Ponorogo, Ada Pesan Mendalam dari Wamenag
Meski demikian, Syafi’i mengingatkan adanya tantangan baru yang dihadapi pesantren di era modern. Salah satunya adalah munculnya berbagai narasi negatif yang berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan berbasis pesantren.
Ia mengaku sejumlah pesantren di berbagai daerah mengalami penurunan jumlah pendaftar akibat maraknya pemberitaan mengenai kasus-kasus tertentu yang kemudian digeneralisasi terhadap seluruh pesantren.
“Saat masa penerimaan santri baru, sering muncul berbagai pemberitaan negatif tentang pesantren. Mulai isu perundungan hingga kekerasan. Dampaknya, jumlah pendaftar di beberapa pesantren menurun,” ungkapnya.
Dalam Sarasehan Nasional Milad 100 Tahun Gontor, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menegaskan bahwa perjalanan satu abad Gontor bukanlah alasan untuk berbangga diri, melainkan momentum untuk bersyukur dan meningkatkan kualitas pendidikan di masa depan.
Menurutnya, keberhasilan Gontor bertahan selama 100 tahun menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang dibangun para pendiri pondok mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati diri.
“Ini membesarkan hati kita dan anak-anak kita. Gontor bukan melayani konsumen, tetapi membangun dan menawarkan sistem pendidikan yang dirintis hingga bertahan selama 100 tahun,” terang KH Hasan Abdullah Sahal.
Ia berharap generasi penerus mampu melanjutkan perjuangan para pendiri dengan menghadirkan inovasi yang lebih baik tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi ruh pendidikan Gontor.
“Di akan datang harus lebih baik dari sekarang. Semua ini bukan untuk berbangga, tetapi sebagai bentuk syukur dan ikhtiar agar pondok terus berbuat untuk umat,” pungkasnya.
Editor : Putra